Senin, 25 Januari 2010

Nilai Impor Non Migas Naik ± 27,36%

K
einginan pemeritah untuk mencapai efisiensi nasional, menurunkan tingkat ekonomi biaya tinggi menyederhanakan prosedur perizinan, serta mempermudah investasi terus digalakkan. Semua ini dilakukan pemerintah dalam upaya memperbesar kapasitas produksi dan memperkuat struktur ekonomi nasional untuk memdukung kegiatan ekonomi di sektor industri.

Namun upaya itu nampaknya tidak berarti banyak. Terbukti dari fakta, nilai import komoditas non migas mengalami pertumbuhan 27,36% selama periode Januari-Desember 1995. Tingkat pertumbuhan ini terutama di pacu oleh kencangnya impor barang konsumsi, bahan baku, bahan-bahan baku penolong dan barang modal.
Total nilai komoditas non migas mencapai 37.717, 93 juta dollar AS. Sementara pertumbuhan ekspor dari komoditas non migas tak lebih dari 15,13% dalam periode yang sama. Selama kurun waktu 1 tahun itu, nilai ekspor no migas, mencapai 34.953, 57 juta dollar AS.
Melihat data seperti itu, maka sangat wajar jika masyarakat merasa khawatir mengenai kemungkinan membengkaknya nilai defisit nerca transaksi berjalan. Terutama jika melihat data ekspor yang merupakan indikator efisiesi dan kekuatan ekonomi nasional, sampai saat ini belum juga mampu mengimbangi laju kecepatan non migas tersebut.
Laju impor barang konsumsi masih sangat tinggi. Menurut Biro Pusat Statistik yang di olah kantor Menko Produksi dan Distribusi, pertumbuhan nilai impor barang konsumsi periode Januari-Desember 1985 mencapai 66,59%.
Kenaikan ini terutama disebabkan oleh meningkatnya barang konsumsi untuk rumah tangga yang sudah diolah. Demikian juga dengan barang konsumsi tahan lama yang meningkat 107,79%. Seperti yang terlihat pada tabel Rincian Ekspor Impor dibawah ini.




Peningkatan impor bahan baku dan penolong bukan hal yang buruk, walaupun pertumbuhanya besar. Sebab dengan adanya peningkatan ini, jelas memberikan indikasi bahwa sector produksi di Indonesia berjalan denagn baik. Bahkan peningkatan itu menunjukkan gambaran bagaimana dinamisnya sekto-sektor produksi untuk terus mengikuti perkembangan pasar.
I
tulah gambaran konkret struktur industri nasional selama ini, yang pengembangannya belum mampu lepas dari pola substitusi impor. Kebijakan itu semata-mata berangkat dari upaya untuk menekan nilai impor, dan bukannya upaya membangun

Tidak ada komentar:

Posting Komentar