Rabu, 22 Desember 2010
Apa MAUMUUU??
denger yaa. .saya ini manusia,,saya juga beda sama tmen2 mu yg lain. . jgn pernah perlakukan saya seperti teman cewekmu yg lain. .
Kalo ajaa kamu tu yaa,,tau gmn seharusnya bersikap!? perakuan kamu yg seolah memberi harapan,,buat saya merasa tersiksa!! Kenapa saya bertemu kamu,,di saat saya sedang berusaha menata hati dan hidup sayaa. .
Pengen banget rasanya nyebut namamu di sini dengan JELAS!! Biar kamu tau gimana susahnya hidup saya akibat sikap yg anda tunjukan. .
Jumat, 09 April 2010
PARTAI DEMOKRASI INDONESIA PERJUANGAN
bertahun-tahun kita dalam ketakutan dan tertekan
Banyak rakyat menderita
Karena ulah si Penguasa
Wahai kader-kader PDIP sejati
Mari kita bersatu benahi tanah air ini
Dengan hati yang suci
Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan
Mari kita sambut Ibu Mega
yang siap menjadi pemimpin bangsa
Menuju Indonesia baru
NB : Puisi di post kan sbg ucapan selamat untuk Ibu Mega yang telah terpilih kembali mjd ketua umum PDIP daLam Kongres PDIP ke III di Bali (5-8 April 2010)
Kamis, 11 Februari 2010
kenaa di hati banget!?
Kemaren akuu smpe gak bisa tidur, . ada satu hal yang ganjel bgt!? pokoknya buat orang tang Lagi ngisi hati ku saat ini, akuu akan terus coba buat hapus kamuu dari hatiku. . . karena menyukaimu adalah sesuatu yang salah dan tdk boleh terjadii. . . heeeh. . .
Jumat, 05 Februari 2010
TIMAH
Dari Kolong HINGGA SUVENIR
| D |
ua lelaki tanpa baju enggotang pipa paralon yang disembunyikan dari gubuk di samping kolong(lubang galian tambang). Badan kekar dan kulit coklat kehitaman yang terbakar matahari menandakan aktifitas sehari-hari mereka. Aktivitas tambang inkonventional (TI) mulai terdengar di Desa Sirna Jaya, kecamatan sungai Liat, kabupaten
Ditempat lain di Gedung PT. Timah Tbk, Pangkal Pinang enam perajin sobuk menggarap berbagai bentuk souvenir yang dibuat dari pewter. Ini adalah bahan olahan dari timah murni(97 persen), dicampur sedikit tembaga (2 persen) dan antimony (1 persen). Dengan alat sederhana, mulai dari gunting, solder, kikir, las, hingga mesin bubut mereka, memoles timah menjadi souvenir yang menarik.
Bagaiman sejarah timah itu berawal di Pulau

Senin, 25 Januari 2010
K
einginan pemeritah untuk mencapai efisiensi nasional, menurunkan tingkat ekonomi biaya tinggi menyederhanakan prosedur perizinan, serta mempermudah investasi terus digalakkan. Semua ini dilakukan pemerintah dalam upaya memperbesar kapasitas produksi dan memperkuat struktur ekonomi nasional untuk memdukung kegiatan ekonomi di sektor industri.
Namun upaya itu nampaknya tidak berarti banyak. Terbukti dari fakta, nilai import komoditas non migas mengalami pertumbuhan 27,36% selama periode Januari-Desember 1995. Tingkat pertumbuhan ini terutama di pacu oleh kencangnya impor barang konsumsi, bahan baku, bahan-bahan baku penolong dan barang modal.
Total nilai komoditas non migas mencapai 37.717, 93 juta dollar AS. Sementara pertumbuhan ekspor dari komoditas non migas tak lebih dari 15,13% dalam periode yang sama. Selama kurun waktu 1 tahun itu, nilai ekspor no migas, mencapai 34.953, 57 juta dollar AS.
Melihat data seperti itu, maka sangat wajar jika masyarakat merasa khawatir mengenai kemungkinan membengkaknya nilai defisit nerca transaksi berjalan. Terutama jika melihat data ekspor yang merupakan indikator efisiesi dan kekuatan ekonomi nasional, sampai saat ini belum juga mampu mengimbangi laju kecepatan non migas tersebut.
Laju impor barang konsumsi masih sangat tinggi. Menurut Biro Pusat Statistik yang di olah kantor Menko Produksi dan Distribusi, pertumbuhan nilai impor barang konsumsi periode Januari-Desember 1985 mencapai 66,59%.
Kenaikan ini terutama disebabkan oleh meningkatnya barang konsumsi untuk rumah tangga yang sudah diolah. Demikian juga dengan barang konsumsi tahan lama yang meningkat 107,79%. Seperti yang terlihat pada tabel Rincian Ekspor Impor dibawah ini.
Peningkatan impor bahan baku dan penolong bukan hal yang buruk, walaupun pertumbuhanya besar. Sebab dengan adanya peningkatan ini, jelas memberikan indikasi bahwa sector produksi di Indonesia berjalan denagn baik. Bahkan peningkatan itu menunjukkan gambaran bagaimana dinamisnya sekto-sektor produksi untuk terus mengikuti perkembangan pasar.
I
tulah gambaran konkret struktur industri nasional selama ini, yang pengembangannya belum mampu lepas dari pola substitusi impor. Kebijakan itu semata-mata berangkat dari upaya untuk menekan nilai impor, dan bukannya upaya membangun