Kamis, 11 Februari 2010

kenaa di hati banget!?

hhaaah. . . baru-baru ini, kejadian gak enak dateng gak stop2! udah seperti di rencanain aja. . . Rasa kecewa, marah, sebeLL. .. udah numpuk tinggi bgt!? tp, gak bisa d luapin. kenapa yaa,. harus gini terus. .. BOSEEEN bgt!?

Kemaren akuu smpe gak bisa tidur, . ada satu hal yang ganjel bgt!? pokoknya buat orang tang Lagi ngisi hati ku saat ini, akuu akan terus coba buat hapus kamuu dari hatiku. . . karena menyukaimu adalah sesuatu yang salah dan tdk boleh terjadii. . . heeeh. . .

Jumat, 05 Februari 2010

TIMAH BANGKA

Dari Kolong HINGGA SUVENIR

D

ua lelaki tanpa baju enggotang pipa paralon yang disembunyikan dari gubuk di samping kolong(lubang galian tambang). Badan kekar dan kulit coklat kehitaman yang terbakar matahari menandakan aktifitas sehari-hari mereka. Aktivitas tambang inkonventional (TI) mulai terdengar di Desa Sirna Jaya, kecamatan sungai Liat, kabupaten Bangka, Provinsi Bangka Belitung. Gemuruhnya makin terdengar ketika escalator dan pompa penyemprot air malai bekerja di tempat pendulangan untuk memisahkan tanah dan menyisakan batu dan pasir timah.

Ditempat lain di Gedung PT. Timah Tbk, Pangkal Pinang enam perajin sobuk menggarap berbagai bentuk souvenir yang dibuat dari pewter. Ini adalah bahan olahan dari timah murni(97 persen), dicampur sedikit tembaga (2 persen) dan antimony (1 persen). Dengan alat sederhana, mulai dari gunting, solder, kikir, las, hingga mesin bubut mereka, memoles timah menjadi souvenir yang menarik.

Bagaiman sejarah timah itu berawal di Pulau Bangka yang telah dikenal pelaut-pelat Cina sebagai pulau bernama Pu-Lei sejak abad ke-3 Masehi. Berita China abad ke-7 menyebut bahwa komoditas peerdagangan dari Shiih-li-fo-sih (Sriwijaya) antara lain adalah timah. Pada abad-abad tiu Bangka-Belitung ter,asuk wilayah kekuasaan Sriwijaya. Baru pada pertengahan abad ke-18 keterlibatan orang-orang Tionghoa di Bangka, yang umumnya datang dari wilayah Hakka, mulai berperan, baik sebagai tenaga kasar, agen pembeli, maupun pengusaha pertambangan itu sendiri. Keberadaan penambangan asal daratan Tiongkok di Pulau Bangka seluas 11. 704 kilometer persegi terus bertambah. Mary F. Somers Hindheus dalam Bangka Tin and Mentok Pepper memaperkan ribuan pekerja asal Coina didatangkan oleh Belanda secara msal dan bergelombang sebagaim kuli kontrak di Bangka pada tahun 1710. Belanda mengambil alih kusa penambangan timah di Pulau Bangka dari Kesultanan Palembang pada abad ke-19 pasca-kejatuha Sultan Mahmud Badaruddin II. Belanda kemudian mendirikan perusahaan pertambangan timah, Nangka Tin Winning alias BTW. Inilah yang kemudian menjadi awal keberadaan PT. Tima di Pulau Bangka-Belitung hingga kini.